Posts

Another day without food

I failed to wake up early this morning so that I was unable to eat or drink anything before fasting. In addition to that, I also forgot to drink enough water on the night before. Bad enough? Of course not. There is still a fact that I also had a jogging a while before I broke my fasting day on the previous day. It supposed to be a very tough day today. But for some reasons, I didn't feel it that bad. I still had enough energy up to noon time so I could even go out to a barbershop to get my hair cut. I only felt very tired a few hours before the end of the fasting time. I spent them by sleeping until the time to eat. It's close to midnight again when I wrote this blog entry. I'm not sleepy as I had too much sleep this afternoon. However, there is a risk that I will fail to wake up again if I don't force myself to sleep. I don't want to take the risk. A day of fasting without preparation is enough.

A few minutes before midnight

Today is the 1st of Ramadan and It is very close to the middle of the night. I should go to sleep, but I'm not sleepy yet. My body clock is still configured to the regular days. Need to adapt it with a new rhythm as I need to wake up very early this month. I had a good jogging this afternoon, just a while before I break my fasting.  For some reasons, I'm feeling fresher after sport, instead of tired. It makes more difficult for me to force myself to go to bed earlier. Writing this blog in the middle of the night is actually purposed to make me tired. If the theory works, it could help me to solve the other problem, i.e: changing my sleeping time. Unfortunately, it doesn't seem to work. I'm still feeling fresh, despite of not knowing what to write on this blog. Luckily, It was not the only reason I'm writing this blog now. The more important reason is that I'm forcing myself to improve my skill of storytelling. I believe that improvement can be gained by pr...

Be a Better Speaker?

I used to be very confident in my ability to deliver a speech. I could even take an opportunity when I was asked to conduct my speech on the spot. I didn't need to have significant amount of preparation in order to be a speaker. Recently, I figured out that It is not true anymore. COVID-19 had punched me in a hard way. I had to convert any lecture that I had into online sessions. Not really sure what was the difference, but I don't like my performance when I did the online teaching.  Many times I trapped in using the same words again and again. Even worse, I sometimes forget everything. I've never seen myself as bad as this before. What could be the difference? What am I so bad nowadays? As always,  interesting questions should lead to an interesting answers. One of the answer was the fact that I used to deliver my speech in my native language. There were no language barriers. I could say anything I wanted to say without even thinking. But now, I kind of need to transla...

COVID-19 days

It's been a while that we are living in the COVID-19 days now. Most people are staying at home. All students have to study from home. Workers are doing the same too. Only the ones considered as doing vital jobs can leave their house. It sounds like a temporary solution before. It was purposed to slow down the spreading of the virus. Many days have been passed, It doesn't feel like a temporary anymore. I feels more like the living style has to be changed. I spent many hours of watching movie nowadays. Today, I figured out that I have watched all of the movie that I thought I would watch. Need to search more to find out if I will like some others. I may find ones, but probably not too. It's an indication that I need to find other activity to spend my times. May be it is a good time to start blogging again as the old days before the COVID-19. Starting a new activity like blogging is not that easy for me. There are many blockers that I need to pass but I'm taking the ...

Inserting a picture on Blogspot

Image
One of the interesting feature that I discovered on Blogger is the possibility of inserting a google photos into a post without any hassle. There is no easy way to do that with other blog - as far as I know. This post is just a test, to see how it looks like

The English Version

Everything has a history, including this blog. A disaster on my Wordpress blog , was the trigger. I was unable to access my blog.  Without any explanation, Wordpress decided to suspend my blog. I was really upset at that time. Not only because the blog was suspended, but in addition to that, I was in the middle of reviewing the blog . It was not a good time for downtime. It destroyed my mood and ring a bell on my head that I needed a disaster recovery plan. Luckily, Wordpress gave me a chance to export the post and comments hence I could import my posts into a new blog, which then became this blog. It wasn't that easy to restore it though, since Wordpress and Blogspot have different data format. Extra effort was required to migrate the contents. The next day, I got a reply from Wordpress that the suspension happened due to incorrect behavior of their anti spam. For some reason my blog was judged as a spammer. Something that I couldn't believe since I had been maintaining...

Aku, Gue dan Saya

Hari ini aku sedang iseng mengunjungi beberapa blog sambil mencari ide tentang apa yang ingin aku tulis hari ini di blog ini. Salah satu blog yang terlintas di kepala adalah blog Mas Rovicky . Dongeng Geologi ternyata masih dilanjutkan oleh pendongeng-pendongeng penerus. Gaya penulisan tampaknya diusahakan mirip dengan gaya Mas Rovicky dulu.  Namun sebagai sahabat dan penggemar Mas Vicky, gaya itu tetap tak sama. Rasa blog itu tak lagi sama. Wajar saja, karena memang jiwa penulisnya sudah berbeda.  Blog satu lagi yang aku kunjungi adalah blog Ivan Lanin .  Kok Ivan? Apakah karena aku penggemar Bahasa Indonesia? Tentu saja tidak. Aku bukan penggemar aturan baku dalam berbahasa. Tulisanku bercampur-campur bahasanya. Kadang ada kosakata Inggris, Jawa atau bahasa-bahasa lain. Semua aku biarkan mengalir saja seperti bagaimana aku bicara sehari-hari, yang juga bercampur-campur tak patuh hanya pada satu struktur dan kosakata satu bahasa. Kunjunganku pada kedua blog di ata...

Malam Tahun Baru di Vienna

Image
Ada berbagai cara melewati malam tahun baru. Ada yang melewatinya sambil nonton kembang api di pantai. Ada yang melewatinya sambil nonton film kesayangan. Dan ada juga yang melewatinya sambil bobok ngiler nggak karuan. Pagi terakhir di tahun 2019 ini kami tidak keluar apartemen seperti hari-hari sebelumnya. Kami memutuskan untuk bersantai-santai dulu di apartemen dengan harapan bisa agak segar dan kuat untuk melewati malam hingga pergantian tahun 2020 nanti. Setelah agak siang baru kami berencana keluar apartemen untuk mencari makan siang dan langsung melaju ke Central Hall.  Konon katanya warga Vienna melewatkan tahun baru di sana. Sesampainya di sana, ternyata ada semacam pasar malam dan konser di sana. Ada beberapa toko-toko temporer yang menjual berbagai makanan, cendera mata. Sayangnya anak-anak mulai lelah dan tidak betah. Padahal pergantian tahun masih lama, masih kira-kira 6 jam lagi.  Entah bagaimana caranya melewati malam sepanjang ini di sini. Ak...

A Blessing in Disguise

Image
Hidup ini penuh dengan dinamika. Ada saatnya kita bertemu rejeki nomplok,  ada kalanya apes datang seperti kena tabok.  Berita bagusnya, dalam setiap kesempitan selalu ada kesempatan. Jika kita jeli melihat, akan selalu ketemu sisi baik dari setiap peristiwa tidak menyenangkan yang datang menghalang. Pagi ini aku sebenarnya agak kesal.  Facebook tidak bisa dibuka di tempat kerja. Selain itu, beberapa situs media sosial juga tidak bisa diakses. Instagram juga tak bisa dilihat. Aku kehilangan cara untuk mendapatkan gosip-gosip terkemuka. Lalu bagaimana caranya aku mau bergaul dan pamer-pamer? Bisa dibayangkan betapa kesal dan sedihnya khan? Untungnya, rasa kesal itu tak lama. Aku segera teringat rencanaku beberapa saat yang lalu untuk mengendalikan kecanduan .  Tidak adanya akses ke FB di tempat kerja sebenarnya adalah anugerah. Aku tak akan tergoda untuk membukanya. Boro-boro sampai kecanduan. Bagaimana bisa tergoda jika tidak ada yang menggoda. Ye kan? A ...

Cemilan Residu

Image
Liburan di Eropa memang telah usai. Namun impact liburan sampai sekarang masih saja ada jejaknya. Salah satunya adalah yang aku sebut dengan Cemilan Residu . Sebagai seorang pecinta alam, aku memang memilih banyak jalan kaki saat liburan dibandingkan dengan menyewa mobil.  Pencinta alam, alasan yang keren bukan? Well, alasan lain sebenarnya juga ada. Aku membawa begitu banyak koper-koper besar. Tidak tanggung-tanggung, ada empat jumlahnya. Taksi di Eropa yang kecil-kecil tak akan mampu membawa koper-koper ini. Akan dibutuhkan dua taksi jika masih mau nekad membawa koper-koper ini naik taksi. Bukan preferable solution. Oleh karenanya, kami memilih mendorong-dorong koper ini saja ke halte terdekat dan naik angkutan umum. Selain masalah koper, jumlah anggota keluarga juga merupakan kendala ketika naik taksi. Mayoritas taksi atau Uber hanya menerima 4 penumpang saja, padahal anggota keluarga kami ada 5.  Masak satu anggota ditinggal di rumah dan tak diajak liburan? Khan kasian. Maka lagi-l...

Addicted

Image
Bermain di Media Sosial memang mengasyikkan. Apesnya, di balik kenikmatan itu tersimpan juga sebuah ancaman. Apakah itu? Kecanduan. Segala hal yang tadinya bagus, menjadi tidak baik lagi ketika menyebabkan kecanduan dan ketergantungan. It took the freedom out of your life. Beberapa tahun yang lalu, aku pernah berada dalam situasi cukup parah, kecanduan berbagai media sosial. Tiap detik -if I may exaggerate-  aku membuka satu dari sekian banyak media sosial, entah FB, WA ataupun Telegram. Hal ini sungguh merugikan. Banyak waktu terbuang percuma. Produktivitas menurun drastis. At the end of the day, I regretted that I missed so many good things when I had the opportunities to get them if I weren't spent too much time on the social medias. Corrective action yang aku lakukan pada saat itu adalah deaktivasi account FB, keluar dari group-group WhatsApp dan Telegram serta lebih sering meninggalkan telepon genggam jauh dari jangkauan. Hal ini aku lakukan sampai sekitar 2 tahun. Hasilnya sa...

When It's not the time to give up yet

Image
Keputusan untuk " move on " itu memang bukanlah keputusan yang mudah. Karena selain harus mengakui ketidak-berhasilan, aku juga harus membawa-bawa rasa penyesalan atas apa yang tidak aku lakukan untuk memperjuangkannya. Oleh karena itu, sebelum memutuskan untuk berhenti berjuang, aku biasanya mencoba untuk melakukan apa saja yang mungkin untuk dilakukan sehingga tak ada lagi penyesalan ketika saat " move on " tiba. Kasus Visa "ditolak" kedutaan Austria beberapa saat yang lalu adalah salah satu contohnya. Tidak ada tatap muka dengan Consular sehingga aku tak bisa meyakinkan pihak kedutaan bahwa aku layak mendapat visa. Kedutaan juga menolak memberi jawaban melalui telepon ketika ditanya. Email juga tidak ditanggapi oleh mereka. Hopeless? demikianlah kira-kira yang aku rasakan saat itu. Apakah sudah saatnya menerima musibah ini sebagai kenyataan pahit yang sudah diterima? Tentu saja tidak semudah itu. I believed that It must have been only the matter of mis...

On The Way To Zermatt

Image
We are on the way to Zermatt. Kids are discussing about what they are going to do in Zermatt.

When Things Went Unexpected

Image
Malam itu aku pulang ke rumah dengan gejolak berkecamuk di dada. Aku tak tahu bagaimana caranya mengatakan pada Dinda dan anak-anak bahwa liburan ke Austria terpaksa batal karena Visa ditolak oleh kedutaan Austria. Beberapa jam sebelumnya, aku ditelpon oleh kedutaan Austria di Abu Dhabi. Pihak kedutaan menyarankan agar aku membatalkan aplikasi Visa Schengen yang aku ajukan karena jika tidak aku batalkan maka mereka akan menolaknya. Aku terkejut mendengar berita itu dan menanyakan alasannya. Pihak kedutaan tak mau menjelaskan alasannya. " We can't tell you the reason over the phone based on our policy, Sir ", jawabnya. Aku diminta untuk mengirimkan email ke alamat email mereka untuk mengajukan pembatalan permohonan Visa. Ditolak tanpa penjelasan. Rasanya begitu menyesakkan. Masih lebih baik ditolak cewek dengan alasan sudah dianggap seperti kakak sendiri, daripada Visa ditolak Kedutaan sehingga acara liburan menjadi gagal total berantakan. Untungnya di balik setiap kegelap...

Attention Economy

Image
" Caper lu ! ", cemooh kita pada teman atau orang lain yang kerjaannya suka mencari-cari perhatian orang lain. Perbuatan mencari perhatian, memang bisa mendatangkan cemooh dari orang lain. Namun di sisi lain, ketika dia berhasil mendapatkan perhatian orang lain, dia juga bisa menjadi orang kaya dan uang mengalir dengan lancar ke rekening-rekening pendapatannya. Cobalah simak kelakuan Abu Janda, Deni Siregar dan Jonru misalnya. Mereka sengaja menyebar hoax dan memancing keributan untuk menarik perhatian orang lain. Ada yang kemudian mati-matian menjadi pendukungnya sementara sebagian lain menjadi penentangnya. Namun apapun posisi orang-orang ini -baik mendukung atau menentang- telah membuat para buzzer ini menjadi terkenal. Lalu popularitas ini mereka manfaatkan untuk mendapatkan kekayaan. Tak hanya para buzzer, para Selebriti sebenarnya juga sudah lama melakukan ini. Ketika popularitas mereka mulai meredup, maka mereka akan melakukan hal-hal yang menarik perhatian publik. Med...

The Late Bloomer

Image
Sewaktu punya anak pertama dulu, aku rajin membaca buku tentang perkembangan anak. Tiap bulan, atau bahkan minggu, si Ganteng sudah dipantau perkembangannya berdasarkan apa yang dibaca dari buku bacaan. Jika ada perkembangan yang tidak sesuai, maka aku segera mencari tahu apa yang harus dilakukan untuk memperbaikinya. Banyak membaca memang ada bagusnya. Tapi sisi jeleknya juga ada, yaitu aku menjadi tertekan ketika perkembangan anak tidak sesuai dengan buku bacaan. Berbagai corrective action akan dicoba agar perkembangan anak bisa sesuai dengan track yang ada di buku-buku bacaan. Untungnya anak pertama dan kedua perkembangannya cukup baik sehingga tak terlalu banyak membuat sutris. Anak ketiga ternyata berbeda. Dia banyak banget melenceng dari apa yang aku baca dari buku bacaan. Contohnya saja soal kemampuan berbicara. Ketika anak-anak seusianya sudah mulai bicara, dia masih belum bisa bicara. Dia cuma bisa nyengir-nyengir saja. Ada kekhawatiran bahwa anak terlambat bicara ini...

Ciluk Ba

Image
Salah satu permainan yang disukai anak-anak sewaktu bayi adalah permainan "ciluk ba".  Orang tua bersembunyi dari pandangan mata si bayi sambil berkata "ciluuuuuuk", dan kemudian tiba-tiba muncul dan berkata "baaaaa". Aku tak tahu pasti mengapa permainan "ciluk ba" ini begitu digemari oleh anak-anak bayi.  Pernah aku dengar bahwa ini adalah cara orang tua mengajarkan percaya diri. Sang bayi akan memiliki kepercayaan bahwa walaupun orang tua tak berada di jangkauan mata, namun mereka tak pernah hilang. Orang tua akan selalu datang kembali. **** Sekarang anak-anak sudah besar.  Namun sepertinya mereka masih menyukai permainan ciluk-ba.  Hanya saja sekarang modelnya sudah berbeda. Tak lagi seperti dulu. Kini mereka yang bersembunyi dan orang tuanya yang dibuat kaget. Misalnya beberapa hari yang lalu pada saat sedang belanja di supermarket.  Ketika sedang sibuk mencari-cari barang belanjaan, tiba-tiba si Cantik hilang. Aku celingak-celinguk kesana-ke...

Hujan? Libur

Image
Menurut ramalan cuaca, hari ini cuaca bakalan mendung. Akan ada hujan lebat, topan badai, dan angin yang berdebu campur air. Untunglah tidak disertai dengan cacing kerempeng, babon bulukan dan monyet bintitan (lha, ini khan cuma ada di kosakata Kapten Haddock di buku Tintin?) Anak-anak sekolah dan para guru sekolah sangat bahagia hari ini, karena pemerintah menyatakan bahwa hari ini adalah hari libur. Sementara bapak-bapak sudah duduk manis di depan WhatsApp sejak tadi malam menunggu pengumuman dari kantor, yang diharapkan senada dengan pengumuman dari pemerintah pada anak-anak sekolah. Ternyata walau sudah ditunggu sampai pagi, pengumuman itu tak kunjung datang juga. Apa boleh buat, kami tidak kebagian rejeki libur dan aku membuat postingan blog ini di meja kantor.

Bertemu Apa Yang Dicari

Image
Saat menghabiskan waktu sebelum menjemput anak-anak, aku biasanya melewatkan waktu dengan bernyanyi sampai HP-ku kehabisan batre. Namun pagi itu aku tak punya banyak mood untuk bernyanyi. Setelah beberapa lagu selesai aku nyanyikan, aku terpikir untuk menghabiskan sisa waktu yang masih sekitar 1 jam lebih itu untuk berjalan kaki.  Berdasarkan pengalaman, waktu segitu cukuplah untuk berjalan kaki hingga sekitar 5 kilometer. Saat asyik-asyiknya berjalan kaki, tiba2 aku melihat seorang perempuan berdiri di pinggir jalan sambil memegang payung. Matahari masih belum tinggi, cuaca juga sejuk.  Aneh rasanya melihat orang membawa payung pada cuaca secerah itu. Yang membuatku makin heran lagi adalah dandanan perempuan itu. Bedaknya begitu tebal. Alis mata juga digambar begitu lebar. Lipstik juga begitu merah bagaikan bibir yang baru terjepit pintu kereta. Tak ayal lagi, perhatianku tersita olehnya. Ketika memandang dengan keheranan seperti itu kok tiba-tiba mataku berserobok dengan mata si Mbak...

Video buatan Mesin Cerdas

Image
Perkembangan AI (Artificial Intelligence) memang makin menakjubkan saja.  Sekarang ini, AI tidak hanya mampu mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan otak nalar saja, namun juga mampu melakukan pekerjaan-pekerjaan seni. Ada banyak contoh-contoh yang spektakuler, seperti Komputer yang bisa membuat lukisan sendiri, bisa menciptakan lagu, dan lain sebagainya. Yang baru saja aku saksikan sore ini adalah AI yang bisa membuat video dengan bahan dasarnya adalah video-video yang pernah aku simpan di GooglePhotos. Secara otomatis, GooglePhotos memilihkan momen-momen menarik dari kumpulan video-video yang ada tersebut dan membuatnya menjadi sebuah video yang cantik. GooglePhotos mencuplik momen-momen sejak anak-anak masih bayi,  tumbuh menjadi toddler dan besar seperti sekarang. Tak hanya itu saja, momen-momen menarik saat sedang nyanyi bersama, jalan-jalan dan mengerjakan proyek sekolah bersama juga ada di situ. Hasil akhirnya ? Keren ! Jika aku bikin sendiri aja mu...